Fountain on my tummy
"mik ica mik" kakak lelakiku sesenggukan
"kenapa? kenapa?" Umik yang masih pakai mukenah bertanya bingung sambil terus mendengarkan suara dari ponselnya
"ica mik" KakMi masih sesenggukan (KakMi adalah panggilan yang biasa keluar dari mulutku untuk kakak lelakiku yang satu ini)
"tadi kan Umik bilang ga usah masuk ruang operasi"
Umik pun mulai khawatir juga dengan kondisi KakMi
"umik bentar lagi kesana, sabar dulu" dengan segera Umik melepas mukenah lalu berpamitan pada Jidah (nenekku)
Kurang dari 20 menit dari menutup ponselnya, Umik sudah di Rumah Sakit.
"gimana?" tanya Umik langsung pada KakMi
"jadi tadi ica perutnya pas dibelah langsung muncrat cairan dari perutnya, kayak air mancur, buanyak, wes ga kuat aku"
"untung kamu ga ikut pingsan" balas Umik dengan santai
KakMi yang masih sesenggukan menahan tangis sama menahan tawa.
***
"Ca, ini kamu harus dioperasi" Mba Mei saling bertatapan dengan Mba Ina
"aku telpon Umi sekarang ya" Mba Ina langsung memencet tombol di ponselnya dan bicara dengan Umik.
Sambil menunggu Umik datang, beberapa kali dokter menanyakan "gimana? jadi dioperasi?"
"bentar dokter, nunggu keluarganya" jawaban tak berubah dari Mba Ina dan Mba Mei
-cekrek!-
Mba Ina mengambil foto diriku yang sudah tak berdaya lalu mengirimkan ke saudaranya yang juga seorang dokter.
"itu temenmu udah hijau, cepet diambil tindakan" balasan setelah gambar diterima
"racunnya udah menjalar kemana-mana" tambahnya
hujan di luar belum reda saat Umik datang (ini berasa drama banget ya, hujan disaat genting)
Tanpa menunggu besok atau lusa, jadwal operasiku hari itu juga pukul 18.00. Jarum infus mulai terpasang di tanganku.
"cut (panggilan Mba Ina untukku), masangnya ga sakit kok, tapi pas ngelepas luar biasa" Mba Ina sambil sedikit meringis melihat aku dipasangi kateter
"ga sakit apaan, perih banget begini" aku membatin setelah kateter terpasang
"ini kalo pipis gimana?" tanyaku ke suster yang lagi masang
"ya pipis aja mba di kasur" balas suster santai
"lho, basah semua?" tambahku
"nah itu mba lagi keluar pipisnya, gapapa kok mba" suster yang lalu membereskan alatnya dan meninggalkanku
Aku masuk ruangan sendirian (yaa kalo rame namanya demo)
Pakaianku diganti baju operasi, ada beberapa orang yang lagi tiduran (bukan leha leha hiks) juga di ruangan itu
"cek dulu ya mba"
"dokter, ini mepet banget darahnya. Jadi gimana?"
"ya harus dioperasi ini, ga bisa ditunda lagi"
"baik dokter" ibu suster ini menatapku lalu kembali mencatat
"mba, kok bisa betah sampai kayak gini" gumamnya
"aku setrong bu, tapi kebablasen (kelewatan)" bisikku dalam hati
"setelah ini ya mba, siap-siap"
"aku siap ga siap kudu siap hiks" rintihku masih dalam hati
Kasurku didorong menuju ruang lain, yang ini lebih banyak alatnya. Ada lampu sorot di bagian atas. Aku dipindahkan dari kasurku ke kasur yang lain. Tangan dan kakiku diikat di dipan.
"mba, ini obatnya biar ga sakit, nanti kalau ngantuk dipakai tidur aja ya" mas mas yang entah ganteng atau manis berbisik di telingaku
1 2 3 .. hitungan 5 tidak selesai aku sudah terlelap (ini dasarnya aku suka tidur mungkin berpengaruh)
Entah apa yang terjadi pada tubuhku, aku ga kerasa. Blas!
Saat terbangun, rasanya badanku kaku. Tangan dingin. Kaki dingin.Hati dingin. Aku berada di ruangan pemulihan, bersama beberapa orang lainnya yang juga memulihkan diri dari pembedahan. Sekitar setengah atau satu jam dari aku terbangun, didorong lagi kasurku ke ruang ICU. Berasa artis ditungguin banyak orang di pintu keluar. Aku ga ingat ada siapa aja disana, yang jelas terimakasih sudah menantiku. I love you all :)
Semalam tidur di ruang ICU rasanya ngeri-ngeri sedap. Sepi. Krik-krik. Ada perawat kadang hanya lewat kadang bertanya (kujawab dengan gelengan atau anggukan karena dari hidungku ada selang yang terhubung ke lambung dan kadang mengeluarkan cairan hijau tanpa kusadari. Di ujung selang sudah ada kantong yang menampung cairan itu, hijau pekat). Jahitan vertikal sekitar 11cm terukir manis di perutku ditambah satu lubang sebesar kelingking orang dewasa di bagian kanan. Ada selang yang keluar dari lubang ini yang disambut dengan kantong berisi cairan merah pekat, sepertinya darah. Semalam aman dari kejadian tak terduga.
Paginya ... selamat!
"pak! bapak! pak! iki aku pak!" suara wanita paruh baya membangunkanku
"hgggg hmmmmhh" suara erangan bapak yang terdengar sangat sakit
"sabar bu, tunggu di luar dulu ya" perawat menenangkan si ibu yang sedikit berteriak sambil menangis
Beberapa saat kemudian si ibu dan para pengantar kembali dipanggil perawat.
"dituntun ya bu bapak" blaaarrrr, Mba Ina yang baru saja meninggalkanku rasanya ingin kuikat di dipanku agar tak meninggalkanku sendiri di situasi seperti ini. Apalah aku, yang menopang diri sendiri saja tak kuat. Aku terus berdoa agar malaikat tak salah mencabut nyawa, aku baru saja selamat dari 'kepulanganku'. Kuingin mendengarkan suara mereka, tapi ku teringat kejadian yang sama dengan Abah. Cerita aku mengantarkan Abah klik disini ya. Takut. Hal yang paling dominan padaku saat itu.
"Inna lillahi wa inna ilahi roji'un" ucap suara laki-laki dengan tenang disusul suara laki-laki lain
"bapaak! tangio (bangun) pak! paakk!" sambil menangis si ibu menggoyangkan badan suaminya, ini sedikit terlihat dari tempatku berbaring. Dan air mata bercucuran disitu, termasuk aku yang saat ini mengingat ulang kejadiannya.
Kereta jenazah tiba, si ibu juga mulai ditenangkan sanak saudaranya sambil menelpon keluarga di rumah untuk menyiapkan pemakaman
"bapak iku lho sek sehat suehaat, kok ngene seh pak" si ibu masih sesenggukan sambil melanjutkan isak tangisnya
Kabarnya, bapak ini tertusuk paku saat memanjat pohon kelapa dan pakunya sudah berkarat. Ya, tetanus. Dalane pati iku sewu (jalannya meninggal itu ada seribu), begitu yang sering diucapkan Jidah.
Setelah kehebohan pagi hari berangsur tenang, ada bapak-bapak bergaya semacam dokter ada di ujung ranjangku. Lalu tersenyum dan berlalu. Tak lama, aku dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Lega rasanya berada di ruangan dimana Umik bebas keluar masuk. Malam itu aku tidur sedikit lebih tenang dari malam sebelumnya.
Hari ketiga berada di Rumah Sakit terasa begitu lama.
"sudah kentut?" pertanyaan pertama Dokter Solachudin Hasjim kepadaku
"belum" kujawab dengan lemas. Meski selang masih ada di hidung, aku udah bisa sedikit menjawab.
"kita tunggu kentut ya, wes gapapa ini" dokter ini sungguh selow. Sambil melihat kantong-kantong yang berjejer di dipanku, beliau memeriksaku dengan stetoskopnya
"itu yang dihidung gapapa dokter?" tanya KakMi
"gapapa, nanti juga dilepas" singkat dan ga jelas kapan dilepasnya
Entah ada berapa pertanyaan lain yang diajukan KakMi kepada dokter sembari dokter keluar ruangan.
"pssssstttt" alangkah bahagianya perutku mengeluarkan angin ini.
"yes! udah kentut! ini nanti selang di hidung dilepas" gumamku dalam hati
Pagi 26 November 2016 Dokter Solachudin Hasjim mengunjungiku untuk menanyakan kentut. Iya, kentut memang sangat penting.
"sudah!" jawabku semangat, berharap selang ini bisa segera dilepas
"oke, periksa dulu ya" stetoskopnya kembali menempel di tubuhku
Lalu dokter beranjak meninggalkanku
"dokter" panggilku
"ini ga dilepas?" lumayan kecewa sambil menunjuk hidung
"belum, sabar dulu" lalu pamitan pergi
Pupus sudah harapan dari keluarnya kentutku.
Hari keempat, hari minggu. Kecil kemungkinannya dokter datang, eits tunggu dulu
"gimana udah mendingan?" tanya dokter Solachudin Hasjim saat matahari sudah mulai di atas kepala
"periksa dulu ya" lanjutnya
"paling ini selangnya masih belum boleh dicopot" aku bergumam dalam hati menenangkan diri daripada kecewa kedua kali.
"sudah bagus semua" dokter hampir melangkah meninggalkanku lalu berbalik badan dan menarik selang dengan panjang sekitar satu meter yang ada di hidungku
Kaget, cepat sekali.
Umik dan KakMi masih tercengang di ujung ranjangku.
"sudah kan?" dokter ini sungguh tak terduga, sambil tersenyum meninggalkan kami
"ehhmm hmmm" aku berdehem meski tak ada yang lagi mengganjal di tenggorokanku
Baru saja dokter di pintu kamar, balik badan dan bertanya
"mau pulang?"
"besok aja ya, sekarang saya buatkan suratnya besok langsung pulang ga usah nunggu saya"
"tapi belajar jalan-jalan sama ke toilet juga, kan udah dilepas selang yang di hidung, nanti kateter juga dilepas"
"Alhamdulillah" Umik dan KakMi mengucap syukur
Tak lama dari dokter meninggalkanku, ada suster yang siap melepas kateterku. Sontak aku bersiap seperti yang dikatakan Mba Ina "pas dilepas sakitnya luar biasa". Dan 100 buat Mba Ina! Lepas kateter itu luar biasa, sangat luar biasa rasanya. Perih perih sakit dan kaku. Setelah kateter dilepas, mau tidak mau aku ke toilet. Belajar jalan.
"biasa aja mba, jangan kaku hihihi" suster jaga sepertinya lumayan bahagia melihatku
"nanti sobek lagi gimana" balasku
"yaa enggak mba kan udah aman" balasnya masih cekikikan
"naaah gitu dong! besok beneran pulang ya mba" suster yang melihatku jalan dan senang melihat gaya jalanku yang biasa aja
"hehehe" maaf suster, saya fokus jalan biasa
Kejadian ini 2 tahun yang lalu, tapi masih membekas kuat di ingatanku meski ada beberapa kejadian yang ku coba ingat sekuat tenaga. Ada dua 'batu' yang dikeluarkan dari perutku. Lanjut di tulisan berikutnya ya, semoga masih semangat menanti sebab pembedahan tiba-tiba ini.
Cerita sebelumnya bisa klik disini , lanjutannya bisa klik disini
Sampai jumpa di tulisanku berikutnya! :)
"kenapa? kenapa?" Umik yang masih pakai mukenah bertanya bingung sambil terus mendengarkan suara dari ponselnya
"ica mik" KakMi masih sesenggukan (KakMi adalah panggilan yang biasa keluar dari mulutku untuk kakak lelakiku yang satu ini)
"tadi kan Umik bilang ga usah masuk ruang operasi"
Umik pun mulai khawatir juga dengan kondisi KakMi
"umik bentar lagi kesana, sabar dulu" dengan segera Umik melepas mukenah lalu berpamitan pada Jidah (nenekku)
Kurang dari 20 menit dari menutup ponselnya, Umik sudah di Rumah Sakit.
"gimana?" tanya Umik langsung pada KakMi
"jadi tadi ica perutnya pas dibelah langsung muncrat cairan dari perutnya, kayak air mancur, buanyak, wes ga kuat aku"
"untung kamu ga ikut pingsan" balas Umik dengan santai
KakMi yang masih sesenggukan menahan tangis sama menahan tawa.
***
"Ca, ini kamu harus dioperasi" Mba Mei saling bertatapan dengan Mba Ina
"aku telpon Umi sekarang ya" Mba Ina langsung memencet tombol di ponselnya dan bicara dengan Umik.
Sambil menunggu Umik datang, beberapa kali dokter menanyakan "gimana? jadi dioperasi?"
"bentar dokter, nunggu keluarganya" jawaban tak berubah dari Mba Ina dan Mba Mei
-cekrek!-
Mba Ina mengambil foto diriku yang sudah tak berdaya lalu mengirimkan ke saudaranya yang juga seorang dokter.
"itu temenmu udah hijau, cepet diambil tindakan" balasan setelah gambar diterima
"racunnya udah menjalar kemana-mana" tambahnya
hujan di luar belum reda saat Umik datang (ini berasa drama banget ya, hujan disaat genting)
Tanpa menunggu besok atau lusa, jadwal operasiku hari itu juga pukul 18.00. Jarum infus mulai terpasang di tanganku.
"cut (panggilan Mba Ina untukku), masangnya ga sakit kok, tapi pas ngelepas luar biasa" Mba Ina sambil sedikit meringis melihat aku dipasangi kateter
"ga sakit apaan, perih banget begini" aku membatin setelah kateter terpasang
"ini kalo pipis gimana?" tanyaku ke suster yang lagi masang
"ya pipis aja mba di kasur" balas suster santai
"lho, basah semua?" tambahku
"nah itu mba lagi keluar pipisnya, gapapa kok mba" suster yang lalu membereskan alatnya dan meninggalkanku
Aku masuk ruangan sendirian (yaa kalo rame namanya demo)
Pakaianku diganti baju operasi, ada beberapa orang yang lagi tiduran (bukan leha leha hiks) juga di ruangan itu
"cek dulu ya mba"
"dokter, ini mepet banget darahnya. Jadi gimana?"
"ya harus dioperasi ini, ga bisa ditunda lagi"
"baik dokter" ibu suster ini menatapku lalu kembali mencatat
"mba, kok bisa betah sampai kayak gini" gumamnya
"aku setrong bu, tapi kebablasen (kelewatan)" bisikku dalam hati
"setelah ini ya mba, siap-siap"
"aku siap ga siap kudu siap hiks" rintihku masih dalam hati
Kasurku didorong menuju ruang lain, yang ini lebih banyak alatnya. Ada lampu sorot di bagian atas. Aku dipindahkan dari kasurku ke kasur yang lain. Tangan dan kakiku diikat di dipan.
"mba, ini obatnya biar ga sakit, nanti kalau ngantuk dipakai tidur aja ya" mas mas yang entah ganteng atau manis berbisik di telingaku
1 2 3 .. hitungan 5 tidak selesai aku sudah terlelap (ini dasarnya aku suka tidur mungkin berpengaruh)
Entah apa yang terjadi pada tubuhku, aku ga kerasa. Blas!
Saat terbangun, rasanya badanku kaku. Tangan dingin. Kaki dingin.
Semalam tidur di ruang ICU rasanya ngeri-ngeri sedap. Sepi. Krik-krik. Ada perawat kadang hanya lewat kadang bertanya (kujawab dengan gelengan atau anggukan karena dari hidungku ada selang yang terhubung ke lambung dan kadang mengeluarkan cairan hijau tanpa kusadari. Di ujung selang sudah ada kantong yang menampung cairan itu, hijau pekat). Jahitan vertikal sekitar 11cm terukir manis di perutku ditambah satu lubang sebesar kelingking orang dewasa di bagian kanan. Ada selang yang keluar dari lubang ini yang disambut dengan kantong berisi cairan merah pekat, sepertinya darah. Semalam aman dari kejadian tak terduga.
Paginya ... selamat!
"pak! bapak! pak! iki aku pak!" suara wanita paruh baya membangunkanku
"hgggg hmmmmhh" suara erangan bapak yang terdengar sangat sakit
"sabar bu, tunggu di luar dulu ya" perawat menenangkan si ibu yang sedikit berteriak sambil menangis
Beberapa saat kemudian si ibu dan para pengantar kembali dipanggil perawat.
"dituntun ya bu bapak" blaaarrrr, Mba Ina yang baru saja meninggalkanku rasanya ingin kuikat di dipanku agar tak meninggalkanku sendiri di situasi seperti ini. Apalah aku, yang menopang diri sendiri saja tak kuat. Aku terus berdoa agar malaikat tak salah mencabut nyawa, aku baru saja selamat dari 'kepulanganku'. Kuingin mendengarkan suara mereka, tapi ku teringat kejadian yang sama dengan Abah. Cerita aku mengantarkan Abah klik disini ya. Takut. Hal yang paling dominan padaku saat itu.
"Inna lillahi wa inna ilahi roji'un" ucap suara laki-laki dengan tenang disusul suara laki-laki lain
"bapaak! tangio (bangun) pak! paakk!" sambil menangis si ibu menggoyangkan badan suaminya, ini sedikit terlihat dari tempatku berbaring. Dan air mata bercucuran disitu, termasuk aku yang saat ini mengingat ulang kejadiannya.
Kereta jenazah tiba, si ibu juga mulai ditenangkan sanak saudaranya sambil menelpon keluarga di rumah untuk menyiapkan pemakaman
"bapak iku lho sek sehat suehaat, kok ngene seh pak" si ibu masih sesenggukan sambil melanjutkan isak tangisnya
Kabarnya, bapak ini tertusuk paku saat memanjat pohon kelapa dan pakunya sudah berkarat. Ya, tetanus. Dalane pati iku sewu (jalannya meninggal itu ada seribu), begitu yang sering diucapkan Jidah.
Setelah kehebohan pagi hari berangsur tenang, ada bapak-bapak bergaya semacam dokter ada di ujung ranjangku. Lalu tersenyum dan berlalu. Tak lama, aku dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Lega rasanya berada di ruangan dimana Umik bebas keluar masuk. Malam itu aku tidur sedikit lebih tenang dari malam sebelumnya.
Hari ketiga berada di Rumah Sakit terasa begitu lama.
"sudah kentut?" pertanyaan pertama Dokter Solachudin Hasjim kepadaku
"belum" kujawab dengan lemas. Meski selang masih ada di hidung, aku udah bisa sedikit menjawab.
"kita tunggu kentut ya, wes gapapa ini" dokter ini sungguh selow. Sambil melihat kantong-kantong yang berjejer di dipanku, beliau memeriksaku dengan stetoskopnya
"itu yang dihidung gapapa dokter?" tanya KakMi
"gapapa, nanti juga dilepas" singkat dan ga jelas kapan dilepasnya
Entah ada berapa pertanyaan lain yang diajukan KakMi kepada dokter sembari dokter keluar ruangan.
"pssssstttt" alangkah bahagianya perutku mengeluarkan angin ini.
"yes! udah kentut! ini nanti selang di hidung dilepas" gumamku dalam hati
Pagi 26 November 2016 Dokter Solachudin Hasjim mengunjungiku untuk menanyakan kentut. Iya, kentut memang sangat penting.
"sudah!" jawabku semangat, berharap selang ini bisa segera dilepas
"oke, periksa dulu ya" stetoskopnya kembali menempel di tubuhku
Lalu dokter beranjak meninggalkanku
"dokter" panggilku
"ini ga dilepas?" lumayan kecewa sambil menunjuk hidung
"belum, sabar dulu" lalu pamitan pergi
Pupus sudah harapan dari keluarnya kentutku.
Hari keempat, hari minggu. Kecil kemungkinannya dokter datang, eits tunggu dulu
"gimana udah mendingan?" tanya dokter Solachudin Hasjim saat matahari sudah mulai di atas kepala
"periksa dulu ya" lanjutnya
"paling ini selangnya masih belum boleh dicopot" aku bergumam dalam hati menenangkan diri daripada kecewa kedua kali.
"sudah bagus semua" dokter hampir melangkah meninggalkanku lalu berbalik badan dan menarik selang dengan panjang sekitar satu meter yang ada di hidungku
Kaget, cepat sekali.
Umik dan KakMi masih tercengang di ujung ranjangku.
"sudah kan?" dokter ini sungguh tak terduga, sambil tersenyum meninggalkan kami
"ehhmm hmmm" aku berdehem meski tak ada yang lagi mengganjal di tenggorokanku
Baru saja dokter di pintu kamar, balik badan dan bertanya
"mau pulang?"
"besok aja ya, sekarang saya buatkan suratnya besok langsung pulang ga usah nunggu saya"
"tapi belajar jalan-jalan sama ke toilet juga, kan udah dilepas selang yang di hidung, nanti kateter juga dilepas"
"Alhamdulillah" Umik dan KakMi mengucap syukur
Tak lama dari dokter meninggalkanku, ada suster yang siap melepas kateterku. Sontak aku bersiap seperti yang dikatakan Mba Ina "pas dilepas sakitnya luar biasa". Dan 100 buat Mba Ina! Lepas kateter itu luar biasa, sangat luar biasa rasanya. Perih perih sakit dan kaku. Setelah kateter dilepas, mau tidak mau aku ke toilet. Belajar jalan.
"biasa aja mba, jangan kaku hihihi" suster jaga sepertinya lumayan bahagia melihatku
"nanti sobek lagi gimana" balasku
"yaa enggak mba kan udah aman" balasnya masih cekikikan
"naaah gitu dong! besok beneran pulang ya mba" suster yang melihatku jalan dan senang melihat gaya jalanku yang biasa aja
"hehehe" maaf suster, saya fokus jalan biasa
Kejadian ini 2 tahun yang lalu, tapi masih membekas kuat di ingatanku meski ada beberapa kejadian yang ku coba ingat sekuat tenaga. Ada dua 'batu' yang dikeluarkan dari perutku. Lanjut di tulisan berikutnya ya, semoga masih semangat menanti sebab pembedahan tiba-tiba ini.
Cerita sebelumnya bisa klik disini , lanjutannya bisa klik disini
Sampai jumpa di tulisanku berikutnya! :)










Comments
Post a Comment