Hal sepele bisa jadi fatal
"biasanya saya setelah operasi ga pernah keramas"
"ini langsung keramas, sak bersih-bersih e wes" Dokter Solachudin Hasjim menceritakan dengan nada khas kejawa-jawaannya
"hehehehe" aku malu dan cengengesan
"kok bisa betah, heran saya, ayowes liat dulu jahitannya" sambil meletakkan bolpoint dan mengambil stetoskop, dokter mempersilahkan aku naik ke kasur putih bersih yang ada di ruangannya
***
Sepulang dari RS, kasa anti air penutup perutku tak lagi bisa menempel sempurna. Karena cairan dalam perutku terus keluar dari celah luka operasi. Sesampainya di rumah tak lama ada Bu Mahmudah (temennya Umik) ditemani Mba Rizka (putrinya) menjengukku karna mendengar aku pulang ke rumah hari ini. Alhamdulillah. Mba Rizka ini dosen di salah satu sekolah perawat di Malang, beliau inilah yang membantuku mengganti perban yang terus basah karena cairan di perutku. Beberapa kali beliau datang ke rumah untuk mengganti perbanku lalu pulang.
"ini normal kok, memang cairannya ini harus dikeluarkan dari perut" jelas Mba Rizka
"kapan berhentinya?" tanyaku
"kalau udah abis berenti kok mba, tapi kalau belum habis tapi lukanya udah nutup itu malah bahaya" Mba Rizka menjelaskan
"karena kan itu kotoran yang harus keluar, ga bisa lewat jalur pembuangan.
Bisanya lewat luka yang di perut ini. Nanti kalau kontrol bilang aja sama dokternya" tambahnya
Mba Rizka ini juga mengajariku mengganti perban sendiri, makasih banyak mba :)
Setelah aku bisa lancar mengganti perban sendiri, Mba Rizka juga selesai tugasnya menjadi perawat dadakanku. Kenapa aku mengganti sendiri, bukan Umik? Ga berani dan ga tega melihat. Itulah alasan Umik setiap aku mengganti perban keluar dari kamar. Kalau Umik yang gantiin perbanku, bisa bisa sambil merem hihi
***
Ini adalah kontrol pertamaku setelah operasi. Setelah curhat langsung keramas setelah mengoperasiku, saatnya dokter Solachudin Hasjim memeriksaku
"hhhmmmmmmmmpph" aku menahan sakit saat dokter memencet perutku yang lalu
mengeluarkan banyak cairan.
"wah masih banyak ini cairannya, dirumah tengkurep ya" dokter memberi isyarat ke perawat untuk membersihkan cairan dari perutku yang meluber ke kasur
"cairannya ini harus dikeluarkan sampai habis, biar ga infeksi di dalam" dokter terus bicara sambil mengeluarkan cairan dalam perutku
whaaattttt! setelah kau pencet perutku, lalu aku kau suruh aku tengkurap, sungguh tega kau dokter, tega (bacanya biasa aja, ga usah pake gaya telenovela haha)
Sepulang dari kontrol pertama, perutku sungguh kaku. Mungkin karena dipencet dengan tenaga laki-laki sehat bugar. Aku baru melaksanakan perintah tengkurap keesokan harinya setelah merasa perutku agak mendingan. Saat tengkurap, cairan di perutku semakin banyak. Aku mengalasi perutku dengan popok orang dewasa agar tidak tembus ke kasur. Beberapa hari, cairannya semakin sedikit dan sepertinya lukaku sudah mulai menutup.
Waktu kontrol kedua tiba, Aku sudah berharap cairanku ini sudah mulai habis.
"ini masih banyak cairannya, tapi lukanya udah mau nutup, dikasih jalan aja biar keluar" dokter yang memeriksa perutku bergumam pada perawat
"dikasih jalan gimana sih" batinku
Bapak perawat mendekat sambil membawa alat berwarna perak. Bentuknya seperti pinset besar. Dengan santai dan cekatan, dokter langsung membuka lukaku lagi pakai alat itu.
"dokteeeeerrrrr!" teriakku heboh
"hehehe, gapapa biar cairannya keluar" santai dan tanpa dosa
"dokteeerr! aaarrggh"
"gapapa teriak, penting sembuh, sudah tinggal ditutup" ucap dokter yang melanjutkan membuka lukaku itu selalu santai menanggapi teriakanku
Kontrol pertama dipencet-pencet, kontrol kedua dibuka lagi lukanya, rasanya aku tak ingin kembali untuk kontrol ketiga. Selama menunggu waktu kontrol ketiga, aku lebih rajin tengkurap. Biasanya
setengah jam sehari kutambah jadi setengah jam dikali 2-3 kali sehari.
Harapanku biar cairannya cepet habis.
"makan ikan gabus ya? atau daun binahong?" tanya dokter setelah memeriksa perutku pada kontrol ketiga
"ikan gabus, dokter" jawab KakMi
"oiya bagus itu buat nutup luka operasi gini" sambil mencabut benang-benang jahitan di bagian atas perutku
"jahitan yang atas sudah bagus, sudah saya copoti benangnya ya"
"yang bawah ini belum selesai" geraknya cepat mengambil alat yang sama dengan kontrol kedua dan membuatku teriak
"hmmmmppph" kali ini tidak sesakit saat kontrol kedua, lukaku kembali dibuka untuk memberi jalan cairan
"sudah, tengkurap lagi ya di rumah" sambil menulis resep, dokter menyarankan
Pagi tengkurap. Siang tengkurap. Sore tengkurap. Tiada hari tanpa tengkurap. Aku benar-benar takut kalau ada cairan yang tersisa dan malah membuatku tak berdaya lagi. Alhamdulillah, saat kontrol ke empat aku terbebas dari benang dan tentunya sudah tidak ada lagi caiaran yang keluar. Hanya tersisa sedikit luka bekas dilepasnya benang.
"sudah selesai ini, sudah bagus ga perlu kontrol lagi" sambil menulis resep, dokter Solachudin Hasjim sumringah
"beneran dokter?" tanya Umik
"iya, engkuk langsung mangan rujak pedes yo gapopo (nanti langsung makan rujak pedas juga gapapa)" gumam dokter sambil tertawa kecil
"yang sehat aja dokter kalau itu" balas Umik
"haha, lho wes waras iki gapopo mangan sembarang kalir (lho ini sudah sehat, gapapa makan apa aja)"
"iki jam piro yo? anakku wes muleh wayahe nyusul aku iki (ini jam berapa ya? anakku sudah pulang, waktunya saya menjemput)" dokter yang masih punya anak usia sekolah ini mengakhiri sesi kontrol terakhir dengan menyenangkan
Alhamdulillah, sampai saat ini perutku tak lagi merasakan sakit luar biasa saat menstruasi. Sebelum kejadian ini, setiap menstruasi aku harus istirahat minimal satu hari penuhengan badan yang super lemas. Setelah operasi bukan berarti leha-leha, makan apa aja sembarangan. No! Beberapa bulan setelah operasi, aku makan ketan anget topping SKM+keju. Nikmat! Nikmatnya ga sampai satu jam setelah makan, perutku terasa sangat perih. Sejak saat itu, bentuk ketan apapun kuhindari demi menjaga stabilnya perut. Tidak hanya itu, saat terlalu banyak aktifitas dan kurang minum air putih, perih di perut kerap kali menghampiriku. Jadi harus dijaga agar tak lagi tidur di dinginnya meja operasi.
Penyebabnya sepele, kurang minum air putih, makan tidak teratur, serat dari buah dan sayur kurang, jadi makanan yang masuk dalam tubuhku banyak menumpuk di perut tanpa keluar. Usus buntu. Orang biasanya menyebutnya begitu. Bedanya, levelku ini termasuk sudah parah karena usus buntuku pecah dan isi dari ususnya sudah kemana-mana. Hal ini yang menyebabkan sampai cairan yang kumuntahkan berwarna hijau. Dua 'batu' yang dikeluarkan dari perutku itu adalah endapan makanan yang tidak keluar sempurna melewati jalurnya dan membuat ususku pecah.
Silahkan baca cerita ini dari awal dengan klik disini , terimakasih sudah setia menanti penyebab operasi dadakanku. Banyak minum air putih, makan teratur dan bahagiakanlah orang lain :)
Sampai jumpa dengan tulisanku berikutnya!
"ini langsung keramas, sak bersih-bersih e wes" Dokter Solachudin Hasjim menceritakan dengan nada khas kejawa-jawaannya
"hehehehe" aku malu dan cengengesan
"kok bisa betah, heran saya, ayowes liat dulu jahitannya" sambil meletakkan bolpoint dan mengambil stetoskop, dokter mempersilahkan aku naik ke kasur putih bersih yang ada di ruangannya
***
Sepulang dari RS, kasa anti air penutup perutku tak lagi bisa menempel sempurna. Karena cairan dalam perutku terus keluar dari celah luka operasi. Sesampainya di rumah tak lama ada Bu Mahmudah (temennya Umik) ditemani Mba Rizka (putrinya) menjengukku karna mendengar aku pulang ke rumah hari ini. Alhamdulillah. Mba Rizka ini dosen di salah satu sekolah perawat di Malang, beliau inilah yang membantuku mengganti perban yang terus basah karena cairan di perutku. Beberapa kali beliau datang ke rumah untuk mengganti perbanku lalu pulang.
"ini normal kok, memang cairannya ini harus dikeluarkan dari perut" jelas Mba Rizka
"kapan berhentinya?" tanyaku
"kalau udah abis berenti kok mba, tapi kalau belum habis tapi lukanya udah nutup itu malah bahaya" Mba Rizka menjelaskan
"karena kan itu kotoran yang harus keluar, ga bisa lewat jalur pembuangan.
Bisanya lewat luka yang di perut ini. Nanti kalau kontrol bilang aja sama dokternya" tambahnya
Mba Rizka ini juga mengajariku mengganti perban sendiri, makasih banyak mba :)
Setelah aku bisa lancar mengganti perban sendiri, Mba Rizka juga selesai tugasnya menjadi perawat dadakanku. Kenapa aku mengganti sendiri, bukan Umik? Ga berani dan ga tega melihat. Itulah alasan Umik setiap aku mengganti perban keluar dari kamar. Kalau Umik yang gantiin perbanku, bisa bisa sambil merem hihi
***
Ini adalah kontrol pertamaku setelah operasi. Setelah curhat langsung keramas setelah mengoperasiku, saatnya dokter Solachudin Hasjim memeriksaku
"hhhmmmmmmmmpph" aku menahan sakit saat dokter memencet perutku yang lalu
mengeluarkan banyak cairan.
"wah masih banyak ini cairannya, dirumah tengkurep ya" dokter memberi isyarat ke perawat untuk membersihkan cairan dari perutku yang meluber ke kasur
"cairannya ini harus dikeluarkan sampai habis, biar ga infeksi di dalam" dokter terus bicara sambil mengeluarkan cairan dalam perutku
whaaattttt! setelah kau pencet perutku, lalu aku kau suruh aku tengkurap, sungguh tega kau dokter, tega (bacanya biasa aja, ga usah pake gaya telenovela haha)
Sepulang dari kontrol pertama, perutku sungguh kaku. Mungkin karena dipencet dengan tenaga laki-laki sehat bugar. Aku baru melaksanakan perintah tengkurap keesokan harinya setelah merasa perutku agak mendingan. Saat tengkurap, cairan di perutku semakin banyak. Aku mengalasi perutku dengan popok orang dewasa agar tidak tembus ke kasur. Beberapa hari, cairannya semakin sedikit dan sepertinya lukaku sudah mulai menutup.
Waktu kontrol kedua tiba, Aku sudah berharap cairanku ini sudah mulai habis.
"ini masih banyak cairannya, tapi lukanya udah mau nutup, dikasih jalan aja biar keluar" dokter yang memeriksa perutku bergumam pada perawat
"dikasih jalan gimana sih" batinku
Bapak perawat mendekat sambil membawa alat berwarna perak. Bentuknya seperti pinset besar. Dengan santai dan cekatan, dokter langsung membuka lukaku lagi pakai alat itu.
"dokteeeeerrrrr!" teriakku heboh
"hehehe, gapapa biar cairannya keluar" santai dan tanpa dosa
"dokteeerr! aaarrggh"
"gapapa teriak, penting sembuh, sudah tinggal ditutup" ucap dokter yang melanjutkan membuka lukaku itu selalu santai menanggapi teriakanku
Kontrol pertama dipencet-pencet, kontrol kedua dibuka lagi lukanya, rasanya aku tak ingin kembali untuk kontrol ketiga. Selama menunggu waktu kontrol ketiga, aku lebih rajin tengkurap. Biasanya
setengah jam sehari kutambah jadi setengah jam dikali 2-3 kali sehari.
Harapanku biar cairannya cepet habis.
"makan ikan gabus ya? atau daun binahong?" tanya dokter setelah memeriksa perutku pada kontrol ketiga
"ikan gabus, dokter" jawab KakMi
"oiya bagus itu buat nutup luka operasi gini" sambil mencabut benang-benang jahitan di bagian atas perutku
"jahitan yang atas sudah bagus, sudah saya copoti benangnya ya"
"yang bawah ini belum selesai" geraknya cepat mengambil alat yang sama dengan kontrol kedua dan membuatku teriak
"hmmmmppph" kali ini tidak sesakit saat kontrol kedua, lukaku kembali dibuka untuk memberi jalan cairan
"sudah, tengkurap lagi ya di rumah" sambil menulis resep, dokter menyarankan
Pagi tengkurap. Siang tengkurap. Sore tengkurap. Tiada hari tanpa tengkurap. Aku benar-benar takut kalau ada cairan yang tersisa dan malah membuatku tak berdaya lagi. Alhamdulillah, saat kontrol ke empat aku terbebas dari benang dan tentunya sudah tidak ada lagi caiaran yang keluar. Hanya tersisa sedikit luka bekas dilepasnya benang.
"sudah selesai ini, sudah bagus ga perlu kontrol lagi" sambil menulis resep, dokter Solachudin Hasjim sumringah
"beneran dokter?" tanya Umik
"iya, engkuk langsung mangan rujak pedes yo gapopo (nanti langsung makan rujak pedas juga gapapa)" gumam dokter sambil tertawa kecil
"yang sehat aja dokter kalau itu" balas Umik
"haha, lho wes waras iki gapopo mangan sembarang kalir (lho ini sudah sehat, gapapa makan apa aja)"
"iki jam piro yo? anakku wes muleh wayahe nyusul aku iki (ini jam berapa ya? anakku sudah pulang, waktunya saya menjemput)" dokter yang masih punya anak usia sekolah ini mengakhiri sesi kontrol terakhir dengan menyenangkan
Alhamdulillah, sampai saat ini perutku tak lagi merasakan sakit luar biasa saat menstruasi. Sebelum kejadian ini, setiap menstruasi aku harus istirahat minimal satu hari penuhengan badan yang super lemas. Setelah operasi bukan berarti leha-leha, makan apa aja sembarangan. No! Beberapa bulan setelah operasi, aku makan ketan anget topping SKM+keju. Nikmat! Nikmatnya ga sampai satu jam setelah makan, perutku terasa sangat perih. Sejak saat itu, bentuk ketan apapun kuhindari demi menjaga stabilnya perut. Tidak hanya itu, saat terlalu banyak aktifitas dan kurang minum air putih, perih di perut kerap kali menghampiriku. Jadi harus dijaga agar tak lagi tidur di dinginnya meja operasi.
Penyebabnya sepele, kurang minum air putih, makan tidak teratur, serat dari buah dan sayur kurang, jadi makanan yang masuk dalam tubuhku banyak menumpuk di perut tanpa keluar. Usus buntu. Orang biasanya menyebutnya begitu. Bedanya, levelku ini termasuk sudah parah karena usus buntuku pecah dan isi dari ususnya sudah kemana-mana. Hal ini yang menyebabkan sampai cairan yang kumuntahkan berwarna hijau. Dua 'batu' yang dikeluarkan dari perutku itu adalah endapan makanan yang tidak keluar sempurna melewati jalurnya dan membuat ususku pecah.
Silahkan baca cerita ini dari awal dengan klik disini , terimakasih sudah setia menanti penyebab operasi dadakanku. Banyak minum air putih, makan teratur dan bahagiakanlah orang lain :)
Sampai jumpa dengan tulisanku berikutnya!










Comments
Post a Comment