Yakinlah, pasti ada pertolongan
Jam menunjukkan angka 21.35 aku masih menantinya yang datang dari luar kota. Seperti biasa, ia lebih suka membuatku menunggu di ujung jalan daripada harus memanfaatkan jasa ojek atau taksi. Segerombolan pemuda jalanan yang biasa bergerombol diujung jalan itu sudah ada disana sebelum aku datang. Semakin malam jumlah mereka tidak semakin sedikit. Tato dan giwang menempel di tubuh mereka membuat merinding.
Akhirnya yang kutunggu datang
, jam 22.44 dengan satu troli, tas jinjing, dan tentunya rak lipat (rak ini bisa dilipat sampai seukuran lengan orang dewasa). "pipis bentar" tanpa ada persetujuan dariku, langsung menaruh berbagai barang disebelahku. Sekitar 10 menit berlalu. Malam itu di kamar mandi ada perbaikan jadi masih bisa dipakai, biasanya sudah tutup.
Karna bawaan yang banyak, sedikit kerepotan mengangkut semuanya. Untuk menaikkan ke roda duaku. Dua pemuda yang cukup sopan dari segerombolan tadi membantu kami. Mereka biasa dipanggil anak punk, siapa sangka mereka dengan ringan tangan membantu orang lain? Apa yang berpakaian rapi bisa sesopan mereka? Aku sih gak yakin hehe
Perjalanan pulang kali ini terasa lebih dingin dari biasanya. Jalanan mulai sepi dan udara semakin menusuk tulang. Aku sudah tenang karna bahan bakarku sudah kuperkirakan cukup sampai rumah. Tapi ternyata kawat sepanjang dua centi mengharuskanku mencari penambal ban.
Aku berhenti di tempat yang masih ada pedagang, menaruh semua barang. Aku masih belum bicara apapun, si pemilik rumah tiba tiba keluar dan "bocor ya mba? Iku nang lor ono mba, 24 jam wes" (bocor ya mba? Itu di utara ada, buka 24 jam). Lega rasanya, jam 23.16 masih ada tambal ban yang buka dan tak jauh dari tempatku berhenti.
Ini mengingatkanku beberapa waktu lalu kehabisan bensin dan tepat di depan penjual bensin eceran. Tak hanya sekali kejadian seperti ini. Mungkin ini caraNya untuk membuatku bersyukur atas pertolonganNya melalui berbagai cara sederhana. Ini juga membuat orang yang selalu menilai orang dari penampilannya harus berpikir dua kali untuk menilai bagaimana dia. Karena yang berhak menilai seseorang hanya Sang Maha Kuasa. Mari tolong menolong :)
Ini mengingatkanku beberapa waktu lalu kehabisan bensin dan tepat di depan penjual bensin eceran. Tak hanya sekali kejadian seperti ini. Mungkin ini caraNya untuk membuatku bersyukur atas pertolonganNya melalui berbagai cara sederhana. Ini juga membuat orang yang selalu menilai orang dari penampilannya harus berpikir dua kali untuk menilai bagaimana dia. Karena yang berhak menilai seseorang hanya Sang Maha Kuasa. Mari tolong menolong :)








