Say Hello to Yellow
Film pendek "Say Hello to Yellow" ini kunikmati saat festival film pendek di salah satu tempat makan di sudut kota. Serangkaian film sudah mengantri untuk dipertunjukkan. Film demi film diputar dan film ini menjadi yang paling berkesan menurutku.
Ini tentang
seorang anak ibu bidan usia sekolah dasar yang pindah dari kota ke desa. Risma panggilan akrabnya. Risma menyukai serba serbi berwarna kuning mulai dari tas, penghapus, gelang sampai hal-hal kecil lainnya berwarna kuning. Sehari-hari dia selalu berteman dengan ponsel yang tak pernah lepas dari genggamannya. Saat istirahat ia selalu menelepon temannya di kota. Risma tak memiliki banyak teman di sekolah barunya karna terlalu sibuk dengan perangkat komunikasi canggihnya. Kurniati salah satu teman sekelas Risma mencoba untuk mendekati Risma untuk berteman. Selain Kurniati ada pula Ranto dan Boni yang terus mencoba menjadi teman Risma. Tapi Risma hanya sedikit dekat dengan Kurniati.
seorang anak ibu bidan usia sekolah dasar yang pindah dari kota ke desa. Risma panggilan akrabnya. Risma menyukai serba serbi berwarna kuning mulai dari tas, penghapus, gelang sampai hal-hal kecil lainnya berwarna kuning. Sehari-hari dia selalu berteman dengan ponsel yang tak pernah lepas dari genggamannya. Saat istirahat ia selalu menelepon temannya di kota. Risma tak memiliki banyak teman di sekolah barunya karna terlalu sibuk dengan perangkat komunikasi canggihnya. Kurniati salah satu teman sekelas Risma mencoba untuk mendekati Risma untuk berteman. Selain Kurniati ada pula Ranto dan Boni yang terus mencoba menjadi teman Risma. Tapi Risma hanya sedikit dekat dengan Kurniati.
Suatu hari saat pulang sekolah, dengan terpaksa Risma ke bukit bersama Kurniati. Kala itu hampir seluruh penduduk desa menuju bukit. Risma terkejut ketika di bukit itu berkumpul penduduk desa yang menggunakan ponsel untuk menghubungi sanak saudaranya di seberang desa. Kurniati menelpon ibunya yang menjadi TKW di Arab, ada juga Ranto, Boni dan teman-teman baru yang lain sedang asyik berkomunikasi dengan ponsel. Risma merasa malu karena menganggap hanya dirinya yang memiliki perangkat komunikasi canggih. Keesokan harinya, tak sengaja ponsel Risma tertinggal di sekolah dan ditemukan oleh teman-teman Risma . Teman-temannya tertawa tak ada hentinya karena ternyata selama ini Risma hanya berpura-pura telepon karna tak ada sinyal saat di sekolah. Sejak saat itu mereka berteman dan memperbaiki komunikasi tanpa perangkat canggih yang membatasi.
Pengambilan gambar di daerah Gunung Kidul Yogyakarta dengan durasi kurang dari 20 menit tidak menjadikan film ini kaku dan tak jelas. Film yang diproduseri oleh BW Purbanegara ini menyajikan hiburan sekaligus sindiran bagi penikmatnya. Kisahnya mengalir halus dan kental dengan nasehat yang tersirat. Film ini bisa membukakan mata penikmatnya tentang kesombongan diri. Akan ada saatnya kesombongan dan kebohongan akan terbongkar. Perhatikan sekitarmu saat bertemu, bukan hanya melihat perangkat canggih yang kau miliki. Karna bertatap muka langsung sudah mulai diabaikan.
Jadikan perangkat canggihmu mendekatkan yang jauh dan jangan menjauhkan yang dekat :)








