Buat apa? Aku tak mau ketemu ibu.
Obrolan kami dimulai sambil menanti pisang goreng matang. Tepatnya pisang goreng yang kala itu digoreng teman-teman untuk menemani malam yang mulai dingin di salah satu desa pesisir pantai Kabupaten Malang. (aku sih cuma duduk sambil ngobrol ngalor ngidul haha). Cerita ini sedikit mengobati rasa kecewaku dengan event di pesisir pantai ini.
Dari obrolan tak penting sampai belia 14 tahun itu berkata
"aku gak tau ketemu ibukku mba" (aku gak pernah ketemu ibuku mba)"wonge nang Malaysia" (orangnya ke Malaysia)
"yo sing sabar, jenenge kerjo. Yo golek bondo gawe awakmu pisan. Mben lak muleh a" (ya yang sabar, namanya kerja. Cari uang buat kamu juga. Nanti kan pulang) kubalas santai tanpa beban
"yo tapi gg iling karo anake, 14 taon aku ditinggal. Aku sik umur 3 ulan mba" (ya tapi gak ingat sama anaknya, 14 tahun aku ditinggal. Aku masih usia 3 bulan mba)
"lho kok ngunu?" (lha kok gitu?)
"gak eruh mba, aku maleh sedih wes hahaha" (gak tau mba, aku jadi sedih deh hahaha) tampak jelas, dia butuh teman untuk berbagi
"tapi eruh wajahe?" (tapi tau wajahnya?)
"yo eruh mba, ono fotone. Sik tak simpen. Wonge rodok lemu, putih" (ya tau mba, ada fotonya. Masih kusimpan. Orangnya agak gemuk, putih)
"ayu?" (cantik?)
"ayu mba" (cantik mba)
"lha gak tau telpon ta?" (lha gak pernah telpon?)
"tau mba telpon, biyen wes biyen pokoke. Aku sik cilik. Iku budheku sing telpon. Terus hapene sing digawe telpon iku lha kok ilang. Yawes sampe saiki gak tau telpon maneh. Yo gak muleh, gaonok kabare pisan" (pernah mba telpon, udah dulu, dulu pokoknya. Aku masih kecil. Yang telpon Budheku-tante. Terus hapenya yang dipakai telpon hilang. Yasudah sampai sekarang gak pernah telpon lagi. Ya enggak pulang, gak ada kabarnya juga)
"oalah ngunu toh, lha awakmu iki piro seduluran?" (oo gitu, kamu berapa bersaudara?)
"loro mba, iku masku sing maeng iku lho" (dua mba, itu kakakku yang tadi itu)
"oo yaya, enak ya lek pas ono acara ngene rame omahmu" (oo yaya, enak ya kalau pas ada acara seperti ini ramai rumahmu)
"rame mba enak, akeh sing iso diajak ngomong. Biasane aku yo dewean lek ngene iki" (rame mba enak, banyak yang bisa diajak ngobrol. Biasane aku ya sendirian kalau jam segini)
"lha ebes nang ndi?" (ayahmu kemana?)
"mben ebesku moleh mba, bulan pitu karo ibukku" (nanti ayahku pulang mba, bulan ketujuh sama ibukku)
"lho?!?"
"haha, iyo mba wes rabi maneh saiki nang Jakarta" (haha, iya mba udah nikah lagi sekarang di Jakarta)
"ngeneki awakmu gak pingin ketemu ibukmu?" (kamu gak pengen ketemu ibumu?"
"lapo mba? Emoh aku ketemu ibukku. Wes ninggal aku, gak ngurusi aku pisan" (buat apa mba? Aku gak mau ketemu ibukku. Udah pergi dari aku, enggak mengurus aku juga)
Meskipun tak pernah menatap langsung mata ibunya. Tak pernah merasakan pelukan hangatnya. Tak pernah bercanda dengannya. Aku yakin belia ini menyimpan rasa sayang yang dalam dengan ibunya, dia tak pernah membuang fotonya meski hatinya terus menanti kehadirannya. Meski bibirnya mengucap tak ingin bertemu.
Tak ada yang bisa disalahkan. Ibunya? Kita sama sama tidak pernah tau bagaimana kondisi ibunya, apa masih hidup atau sudah tiada. Apa masih sanggup bekerja atau sudah jatuh sakit. Dia pasti punya alasan yang kuat berbuat seperti ini. Belia ini? Hal yang manusiawi ketika diri ditinggalkan tanpa kabar berita dari seorang yang melahirkannya menjadi seseorang yang tak ingin bertemu dengan ibunya, merasa tak adil dengan hidupnya dan mencoba menerima meski hati berat. Orang lain? Bisa juga ada faktor orang lain di kisah ini, tapi kita pun sama sama tidak tahu.
Yang aku bisa belajar dari belia ini, dia bisa bertahan dengan kondisinya. Senyum di bibirnya kerap menghiasi walaupun hati teriris luka tajam. Dia mencoba menerima apa yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Tanpa rumah mewah, tanpa kasih sayang ibu dan tanpa asupan ilmu yang tinggi. Sudahkah kita bersyukur dengan keadaan kita saat ini? Sudahkah kita menerimanya dengan lapang dada? :)








