Marah boleh, tapi jangan lama-lama
"lari yok! lari dari kenyataan" ketikku di grup wa kami
"yang lain gimana?" Trias
blablablabla
"aku jalan deh yaa. uda keseringan lari..dari kenyataan" Fifi menutup obrolan kami malam itu tanda mengiyakan ajakanku ke CFD
Singkat cerita Aku, Trias dan Fifi (biarlah namanya pakai nama orang lain, agar supaya tidak ada yang tersinggung. Semoga) setuju untuk ke CFD pada hari minggukuturut ayah ke kota
Aku dan Trias sudah sampai duluan di CFD dengan outfit siap untuk olahraga. Tak menunggu lama Fifi datang. Cipika cipiki eh iya ga yaa, ga inget~
Ngobrolin kabar bentar sembari kita jalan.
"udah pada pake sepatu, lari sih, aku jalan aja" kata Fifi sambil melihat sekeliling kami ada orang lari-lari kecil. (kira-kira kata-katanya begitu lah intinya)
Karena aku emang ingin membuat tubuh berkeringat, tanpa banyak kata aku langsung lari kecil. Diikuti Trias yang juga lari kecil. Fifi jalan di belakang kami.
Trias mulai kelelahan dan berkata "udah lari aja, aku jalan"
Aku pun lanjut lari meninggalkan Trias dan Fifi yang masih tak terjangkau pandanganku
Setelah lari cukup membuat ngos-ngosan tubuhku, aku jalan pelan sambil menunggu Trias dan Fifi.
Terlihat Trias muncul duluan dan mengimbangi langkahku berjalan pelan.
Sampai di satu titik kami berhenti untuk menunggu Fifi.
"Nah itu dia, yuk!" terlihat batang hidung Fifi muncul kami mendekat ke arahnya
"kamu abis nangis a?" tanya Trias kepada Fifi yang wajahnya agak sembab
"enggak kok" jawab Fifi sembari jalan ke arah kerumunan PKL
Aku dan Trias agak bingung dengan sikap Fifi, kami putuskan untuk diam mengikuti langkahnya.
Fifi berhenti di penjual leker (crepes versi murah ini yaa) membeli 3 leker dengan total pembelanjaan 6K. Sambil menyodorkan pecahan 50ribu, Fifi bergumam "loh disini, kok ga lari"
"gapapa" antara aku atau Trias menjawabnya demikian
"belum ada kembaliannya mba" balas bapak leker
Aku dan Trias sama-sama merogoh tas untuk mencari uang 6K. Dapat!
"ini aja pak" kutaruh uang 6K di atas gerobak bapak leker
"eh jangan-jangan, bapak ada kembalian berapa? ditambahi aja ini lekernya gapapa" Fifi menanyakan ke bapak leker
"ini aja mba udah pas" sambil menunjuk uang yang kuberikan
"belum ada kembalian ini cuma ada **ribu" imbuhnya
"bentar saya cari tukeran dulu" Fifi meninggalkan kami sembari menaruh kantong lekernya di atas uang yang kutaruh
"ribet amat!" gumamku mulai gemas dengan tingkah Fifi
"terus ini kita disini?" tanya Trias
"tungguin disana aja yuk" aku dan Trias meninggalkan leker, uang 6K dan bapak leker dengan wajah bingung
"mba ini gimana?" tanya bapak leker
"buat bapak aja, atau terserah itu mba yang beli" ucapku sedikit teriak
"haassssssh! ribet amaaat begitu doang!" geramku setelah melewati kerumunan PKL
"sabar, sabar, yang waras ngalah" Trias hatinya selembut malaikat euy
"yaa ga gitu, ini perkaranya apa cobaa duh kah" aku masih geram
"udahlah nanti juga udahan dia, lagi ada masalah kali" sambil senyum Trias menatapku
beberapa menit kami tunggu disitu Fifi tidak muncul
"eh, jangan-jangan nanti dia pulang? kita kok nungguin disini?" tanya Trias
"lah iya ya" karna Trias sedang fakir kuota, maka aku membuka ponsel
"okay" ketikku pada layar ponsel setelah melihat chat Fifi yang mengabarkan dia pulang duluan
Aku dan Trias melanjutkan sesi olahraga kami.
Sambil berkeliling melangkahkan kaki, otakku masih berfikir tentang Fifi.
"ah sudahlah" batinku menenangkan diri
Trias yang telinganya sangat suka dengan musik lawas membuat kami berhenti untuk menikmati alunan musik dari sekelompok orang yang juga menggalang dana untuk perbaikan jalan.
Awalnya berdiri, lelah berdiri lalu kami duduk. Buka ponsel lah aku ini menyimak apa yang terjadi dan jadi kaget karena tertulis "Fifi left group"
"whaaatttt!" sel-sel kemarahan Trias langsung memuncak tanpa aba-aba
"ehe" balasku
"ini apa coba sih sncfmlmwrnuk vcnjkfw mxkfer" Trias mulai mengeluarkan berbagai kata untuk melepaskan kekecewaannya
Marah itu hal yang manusaiawi, kan?
Marah, kecewa, lupa, bukan hal yang patut untuk dianggap istimewa.
Setiap orang pasti merasakannya.
Apalagi masalah, gak ada orang hidup tanpa masalah.
Tinggal individunya aja mau jadi lebih besar dari masalah atau lebih kecil dari masalah dan menyalahkan semua orang.
Cerita ini berdasarkan kisah nyata yang dilihat dari sudut pandangku, mungkin bisa jadi berbeda dari sudut pandang orang lain. Cukup diresapi dan janganlama-lama kalau marah nanti cepat tua. Iya, karna kataku kalau marah nanti tidak ada yang mau berteman dan nanti akan lebih mudah menua. Menjadi tua.
Don't sweat the small stuff dan sampai jumpa di tulisanku berikutnya!
"yang lain gimana?" Trias
blablablabla
"aku jalan deh yaa. uda keseringan lari..dari kenyataan" Fifi menutup obrolan kami malam itu tanda mengiyakan ajakanku ke CFD
Singkat cerita Aku, Trias dan Fifi (biarlah namanya pakai nama orang lain, agar supaya tidak ada yang tersinggung. Semoga) setuju untuk ke CFD pada hari minggu
Aku dan Trias sudah sampai duluan di CFD dengan outfit siap untuk olahraga. Tak menunggu lama Fifi datang. Cipika cipiki eh iya ga yaa, ga inget~
Ngobrolin kabar bentar sembari kita jalan.
"udah pada pake sepatu, lari sih, aku jalan aja" kata Fifi sambil melihat sekeliling kami ada orang lari-lari kecil. (kira-kira kata-katanya begitu lah intinya)
Karena aku emang ingin membuat tubuh berkeringat, tanpa banyak kata aku langsung lari kecil. Diikuti Trias yang juga lari kecil. Fifi jalan di belakang kami.
Trias mulai kelelahan dan berkata "udah lari aja, aku jalan"
Aku pun lanjut lari meninggalkan Trias dan Fifi yang masih tak terjangkau pandanganku
Setelah lari cukup membuat ngos-ngosan tubuhku, aku jalan pelan sambil menunggu Trias dan Fifi.
Terlihat Trias muncul duluan dan mengimbangi langkahku berjalan pelan.
Sampai di satu titik kami berhenti untuk menunggu Fifi.
"Nah itu dia, yuk!" terlihat batang hidung Fifi muncul kami mendekat ke arahnya
"kamu abis nangis a?" tanya Trias kepada Fifi yang wajahnya agak sembab
"enggak kok" jawab Fifi sembari jalan ke arah kerumunan PKL
Aku dan Trias agak bingung dengan sikap Fifi, kami putuskan untuk diam mengikuti langkahnya.
Fifi berhenti di penjual leker (crepes versi murah ini yaa) membeli 3 leker dengan total pembelanjaan 6K. Sambil menyodorkan pecahan 50ribu, Fifi bergumam "loh disini, kok ga lari"
"gapapa" antara aku atau Trias menjawabnya demikian
"belum ada kembaliannya mba" balas bapak leker
Aku dan Trias sama-sama merogoh tas untuk mencari uang 6K. Dapat!
"ini aja pak" kutaruh uang 6K di atas gerobak bapak leker
"eh jangan-jangan, bapak ada kembalian berapa? ditambahi aja ini lekernya gapapa" Fifi menanyakan ke bapak leker
"ini aja mba udah pas" sambil menunjuk uang yang kuberikan
"belum ada kembalian ini cuma ada **ribu" imbuhnya
"bentar saya cari tukeran dulu" Fifi meninggalkan kami sembari menaruh kantong lekernya di atas uang yang kutaruh
"ribet amat!" gumamku mulai gemas dengan tingkah Fifi
"terus ini kita disini?" tanya Trias
"tungguin disana aja yuk" aku dan Trias meninggalkan leker, uang 6K dan bapak leker dengan wajah bingung
"mba ini gimana?" tanya bapak leker
"buat bapak aja, atau terserah itu mba yang beli" ucapku sedikit teriak
"haassssssh! ribet amaaat begitu doang!" geramku setelah melewati kerumunan PKL
"sabar, sabar, yang waras ngalah" Trias hatinya selembut malaikat euy
"yaa ga gitu, ini perkaranya apa cobaa duh kah" aku masih geram
"udahlah nanti juga udahan dia, lagi ada masalah kali" sambil senyum Trias menatapku
beberapa menit kami tunggu disitu Fifi tidak muncul
"eh, jangan-jangan nanti dia pulang? kita kok nungguin disini?" tanya Trias
"lah iya ya" karna Trias sedang fakir kuota, maka aku membuka ponsel
"okay" ketikku pada layar ponsel setelah melihat chat Fifi yang mengabarkan dia pulang duluan
Aku dan Trias melanjutkan sesi olahraga kami.
Sambil berkeliling melangkahkan kaki, otakku masih berfikir tentang Fifi.
"ah sudahlah" batinku menenangkan diri
Trias yang telinganya sangat suka dengan musik lawas membuat kami berhenti untuk menikmati alunan musik dari sekelompok orang yang juga menggalang dana untuk perbaikan jalan.
Awalnya berdiri, lelah berdiri lalu kami duduk. Buka ponsel lah aku ini menyimak apa yang terjadi dan jadi kaget karena tertulis "Fifi left group"
"whaaatttt!" sel-sel kemarahan Trias langsung memuncak tanpa aba-aba
"ehe" balasku
"ini apa coba sih sncfmlmwrnuk vcnjkfw mxkfer" Trias mulai mengeluarkan berbagai kata untuk melepaskan kekecewaannya
Marah itu hal yang manusaiawi, kan?
Marah, kecewa, lupa, bukan hal yang patut untuk dianggap istimewa.
Setiap orang pasti merasakannya.
Apalagi masalah, gak ada orang hidup tanpa masalah.
Tinggal individunya aja mau jadi lebih besar dari masalah atau lebih kecil dari masalah dan menyalahkan semua orang.
Cerita ini berdasarkan kisah nyata yang dilihat dari sudut pandangku, mungkin bisa jadi berbeda dari sudut pandang orang lain. Cukup diresapi dan janganlama-lama kalau marah nanti cepat tua. Iya, karna kataku kalau marah nanti tidak ada yang mau berteman dan nanti akan lebih mudah menua. Menjadi tua.
Don't sweat the small stuff dan sampai jumpa di tulisanku berikutnya!










Comments
Post a Comment